Jumat, 18 November 2016

TENTANG SAYA

Assalamualaikum wr.wb

Perkenalkan nama lengkap saya Nauval Madepa, kenapa orang tua saya atau lebih tepatnya mama saya yang memberi nama itu? Nauval artinya “orang yang gagah atau ganteng” sedangkan Madepa artinya “mama di angkat menjadi departemen agama”. Jadi inti dari arti nama saya adalah anak laki-laki gagah lahir pada saat mamanya diangkat menjadi departemen agama.

Saya lahir di kota Padang, kota tercinta, ku jaga dan ku bela. Saya lahir pada tanggal 14 November 1997. Memang lahir di Padang tapi tak bersekolah di sekitar Padang. Mulai dari Tk sampai SD kelas 4, saya bersekolah di daerah Kab. Pasaman, letaknya di perbatasan ujung utara Sumatera Barat. Sejak SD kelas 5 sampai tamat SMA, saya sekolah di daerah Kab.Dharmasraya. Dan sekarang saya Kuliah di UNIKOM sampai sekarang. Nama-nama sekolah yang pernah saya sekolahi yaitu SD N 01 Tarung Tarung (kelas 1 sampai 4),  SD N 03 ( sekarang berubah jadi SD N 02) Koto Baru (kelas 5 sampai 6), MTs N Koto Baru (kelas 7 sampai 9), SMA N 1 Koto Baru (kelas 10 sampai 12), UNIKOM bandung.

Hobi saya itu pramuka dan basketball. Kenapa hobinya  pramuka? Karena di pramuka itu banyak ilmu yang di dapatkan yang tidak di ajarkan di sekolah, ditambah lebih banyak teman yang aku kenal. Pertama kali saya mengenal pramuka itu waktu kecil saat mama ajak saya ke sebuah acara pramuka tapi waktu itu saya tidak tau dimana daerahnya. Saya memulai masuk dalam pramuka aktif itu kelas 5 SD. Mulai banyak prestasi pramuka sejak MTs, di MTs saya pernah pergi jambore nasional yang ke-IX di OKI, sumsel. Sayangnya prestasi pramuka saya Cuma sampai di MTs, setelah masuk SMA hobi saya adalah basketbal tapi saya masih tetap ikut pramuka. Kenapa berubah seperti itu? Karena di SMA saya, prestasi basketball lebih banyak dari pada pramuka, oleh sebab itu saya memilih untuk fokus basketball dari pramuka. Tapi tetap pelajaran wajib no.1.

Pada saat naik kelas X, saya bingung memilih antara jurusan IPA atau IPS. Saya pun bertanya kepada kakak kelas yang dari IPA, saya pikir kakak itu bakalan bilag IPA lebih bagus. Ternyata jawabanya berbeda dari pemikiran saya. Dia bilang cita-cita kamu apa? Yang mana jurusan yang sesuai dengan cita-citamu? Karena cita-cita saya dari kecil itu adalah sebagai pilot, saya pikir jurusan yang paling nyambung dengan cita-cita saya adalah IPA.

Cita-cita saya dari kecil itu adalah pilot. Saya pikir pilot itu pekerjaan yang sangat menyenangkan karena pekerjaannya membawa pesawat kemana-mana sekaligus jalan-jalan. Setelah menerbangkan pesawat menginap di hotel. Yang paling penting adalah gajinya juga besar. Tapi cita-cita berubah karena  abang sepupu saya udh kerja di bandara, saya mengubah cita-cita saya menjadi masinis. Tapi setalah semakin Dewasa akhirnya saya memilih cita-cita saya menjadi pilot kembali. Tetapi orang tua saya khawatir, karena pernah ada banyak berita di tv tentang kecelakaan pilot, orang tua saya takut akan hal itu menimpa anaknya. Lalu mereka menganjurkan menjadi polisi atau tentara. Tapi saya tidak mau menjadi polisi atau tentara. Saya bilang kepada orang tua saya, kalau rezeki, jodoh dan maut ada di tangan allah. Setiap pekerjaan itu memang ada resikonya. Kalau saya jadi polisi pun bisa jadi saya di bunuh oleh penjahat yang saya buru. Misalnya saya berpura-pura menjadi seseorang yang ingin membeli narkoba tetapi ketahuan dan pada saat saya mengetahui siapa  yang mengedarkan narkoba itu dan berusaha mengkapnya, saya di tabrak dengan mobil oleh teman penjahat yang tadi seperti polisi muda yang meninggal karena kasus seperti itu. Kalau tentara saya malas di atur-atur dan tidur pun tidak nyenyak, makan pun tak nyaman karena makan dihitung sampai 10 harus habis. Cukuplah saya merasakan itu pada saat pramuka.

Saya terus menngejar cita-cita saya menjadi pilot. Akhirnya orang tua saya mendukung. Setelah tamat SMA banyak teman-teman saya yang ingin menjadi polisi tetapi saya langsung mencari-cari di internet sekolah pilot dan ketemulah STPI( Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia),curug Banten. Tapi waktu seleksi itu masih lama. Sebagai cadangan orang tua saya menyuruh untuk mengikuti SBMPTN, karena kabarnya soal SBMPTN itu 2x lipalebih susah dari soal UN, saya pun bimbel, awalnya saya ingin bimbel di GO, tapi temen-temen saya menganjurkan di NF karena di NF lebih bagus, katanya. Akhirnya saya memilih NF. Pada waktu bimbel saya memilih ITB jurusa apa pun. Karena ITB adalah kampus paling bagus di indonesia. Kata papa tamat ITB bukan kita yang mencari orang tapi orang yang mencari kita. Tapi saya tak telalu serius karena cita-cita saya adalah menjadi seorang pilot. 

Sebelum seleksi di STPI saya mengikuti tes SBMTPN dulu. Setelah mengikuti tes SBMPTN baru saya berangkat ke STPI. Pada saat sampai di STPI saya melihat diri saya akan sekolah di sana, tepatnya bagus, mempunyai bandara sendiri. Tapi itu hanyalah hayalan karena pada akhirnya saya tidak lulus di STPI itu.

Setelah mendengar kabar bahwa saya tidak lulus di STPI, saya pun berharap akan lulus di SBMPTN, dan hasilnya saya lulus di pendidikan olahraga dan kesehatan di UPI bandung. Tapi orang tua saya tidak mau kalau anaknya lulus di jurusan olahraga, sebab banyak sekali lulusan olahrah di daerah saya yang lulus dari jurusan itu akhirnya tidak ada kerjaan atau lebih dikenal pengangguran. Tapi saya bilang sama orang tua saya bahwa saya akan mengikuti ujian STPI lagi tahun depan. Lalu kenapa kuliah di UPI kalau pada akhirnya di STPI juga? Seperti kata papa, kalau misalnya kita merencanakan sesuatu, kita harus seggera menyediakan rencana cadangan untuk keadaan seburuk-buruknya. Jadi kalau saya lulus tahun depan di STPI alhamdulillah, tetapi kalau tidak, saya akan melanjutkan kuliah di UPI dan mengikuti STPI lagi tahun depan lagi. Dan saya akan melakukan itu sampai umur saya 24 tahun, walau pun saya sudah lulus di UPI.

Karena cita-cita papa dari kecil adalah arsitek, dia mungkin mau anaknya menjadi arssitek, saya bilang kepada orang tua saya kalau saya tidak mau menjadi arsitek. Karena saya tidak bisa menggambar, malas membikin bangunan dan faktor-faktor lain yang tidak mungkin saya di arsitek,mendingan jadi pilot, gajinya besar. Lalu papa saya bilang kalau ada temannya yang arsitek, sekali proyek itu langsung dapat uang yang lumayan besar. Karena mendengar hal itu saya mencari-cari universitas yang ada jurusan arsitekturnya, dan ketemulah UNIKOM. Aku pun mengikuti seleksi di UNIKOM. Pilihan pertamaku adalah SI setelah itu baru arsitektur, karena  kalau saya memilih arsitektur menjadi pilihan utama, jurusan SI nya menghilang. Selesai seleksi masuk jurusan UNIKOM Papa bilang, kalau saya lulus di UNIKOM saya akan di kasih hadiah ini itu ini itu ini itu. Setelah beberapa saat papa bilang seperti itu, tiba-tiba muncul SMS dari UNIKOM kalau saya lulus jurusan SI. Lalu saya tanyakan kepada papa, apakah benar yang papa ucapkan tadi? Dan papa saya langsung menjawab iya. Saya tunjukan sms tadi ke papa, dan papa pun bilang “hah...tu yo tu”.Tapi pas di lihat lagi kenapa jurusan SI? Papa menyuruh untuk ganti jurusan segera ke arsitektur. Ya sudah besok saya akan ke UNIKOM untuk ganti jurusan.

Keesokan harinya saya pun saya berangkat menuju UNIKOM untuk mengurus pindah jurusa saya itu. Saya berharap sekali kuliah di gedung baru. Karena di gedung baru itu terlihat mewah dari gedung UNIKOM lainnya. Dan saya rasa kalau belajar di dalamnya pun menyenangkan.

Pada saat belajar di UNIKOM untuk pertama kali saya merasa kecewa karena belajarnya di gedung lama. Tapi setelah beberapa hari saya mendengar bahwasanya murid baru akan belajar di UNIOM. Saya senang sekali mendengar itu. Dan pada akhirnya saya pun belajar di gedung baru UNIKOM.

1 komentar:

  1. Semangat terus ujian masuk stpi...smga berhasil di tes berikutnya...

    BalasHapus